• 1
  • 2

Selamat Datang di Website SMK MUHAMMADIYAH 02 TANGERANG SELATAN. Terima Kasih Atas Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


SMK MUHAMMADIYAH 02 TANGERANG SELATAN

NPSN : 20603285

Jl.Raya Puspiptek-Gg.Adil (Samping Kampus ITI) Setu Tangerang Selatan


info@smkmudatangsel.sch.id

TLP : 021-7587 4887


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 23840
Pengunjung : 12558
Hari ini : 10
Hits hari ini : 11
Member Online : 0
IP : 18.207.102.38
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Mall Tetap Buka, Mengapa Sekolah Masih Tutup?




Mall buka, mengapa sekolah masih ditutup? Banyak yang mengemukakan pertanyaan tersebut. Bahkan tidak jarang yang menyampaikan keluhan serupa di media sosial berupa protes dengan argumen-argumen yang beragam. Ungkapan-ungkapan tersebut tentunya bukan tanpa dasar. Kejenuhan anak terlalu lama berada di rumah dan keluhan orang tua yang merasa kesulitan mendidik anak di rumah menjadi alasan paling banyak dikemukakan.

 

"Anak-anak lebih nurut kepada gurunya daripada kepada orang tuanya," ujar salah seorang ibu muda yang merasa kewalahan membujuk anaknya untuk menyelesaikan tugas belajar di masa pandemi.  Alasan kesibukan orang tua pun menjadi masalah berikutnya. Di rumah, mereka tidak sepenuhnya bisa mengajar dan mendampingin anak belajar.

 

Namun bila kembali kita kaji, selayaknya keluhan tersebut tidak perlu muncul. Bukankah anak diamanahkan Tuhan kepada orang tua untuk dijaga sepenuh jiwa, termasuk mendidik dan menjadikannya "manusia"? Justru orang tua lah yang selayaknya merasa bersyukur ketika anak-anak tidak harus dilepas ke luar rumah dalam era covid-19 ini. Tugas orang tua lah untuk menjaga dan menyelamatkan anak-anaknya. Jaga mereka tetap aman, di rumah saja.

 

Mengeluh? Boleh... Jenuh? Sama kok, semua orang juga merasakan hal itu. Secara, sudah begitu lama berada di rumah dengan ruang gerak dan lingkungan yang itu-itu saja, pastinya membuat bosan.

 

Akan tetapi bukankah sejak zaman dahulu kala ada selogan bahwa "rumahku adalah istanaku?" Seharusnya kalimat itu menyadarkan bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk kita sekeluarga terutama anak-anak yang masih rentan akan bahaya dari virus corona.

 

New normal, orang sudah bebas wira-wiri kesana kemari seolah kebal pandemi. Bebas liburan, bebas jalan-jalan. Tamasya menjadi ajang balas dendam setelah berbulan lamanya "dikurung" oleh aturan tidak boleh keluar rumah. Stres hilang, jenuh pun musnah sesaat kemudian setelah pergi berekreasi melepas penat bersama orang-orang tercinta.

 

Namun kenapa, di saat semuanya bebas merdeka, sekolah malah 'dikekang' dengan berbagai aturan dan protocol kesehatan dalam setiap kegiatan. Aturan tertulis yang berupa surat edaran pun bertebaran. Pengarahan para pengawas pun kerap menjadi momok menakutkan, "jika ketahuan melanggar, maka sekolah terancam diberhentikan operasionalnya," begitu salah satu bunyi arahan yang seolah mengancam keberlangsungan dan keberadaan sekolah.

 

Akhirnya, para guru pun tidak lagi memiliki pilihan yang bisa diambil selain patuh. Tentunya dengan seabreg dilema yang mengikutinya. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pun dilakukan dengan sedemikian rupa agar anak-anak tetap bisa belajar walau hanya di rumah saja.

 

Terlepas dari apapun kebijakan pemerintah tentang buka dan tutupnya lembaga tertentu dan tempat-tempat publik, saya memandang bahwa kebijakan pemerintah untuk tidak membuka sekolah di masa pandemi ini sudah sangat tepat.

 

Sekolah merupakan lembaga pendidikan. Tempat mendidik dan menempa generasi menjadi pribadi-pribadi yang baik, taat aturan, sadar akan bahaya dan pentingnya keselamatan diri dan orang lain. Sekolah adalah tempat belajar untuk saling menghormati dan banyak lagi hal yang menjadi tugas sekolah bagi kelangsungan negeri.

 

Jadi, jika misal sekolah tetap buka, di manakah fungsi mulia sekolah untuk memberikan kesadaran-kesadaran tersebut? Jika sekolah tetap buka, maka itu berarti sekolah adalah pemeran utama yang menjadikan manusia semua abai pada kepentingan dan keselamatan bersama.

 

Belum lagi, berjuta anak diramalkan akan meninggal akibat terinfeksi virus. Karena anak-anak, terutama yang masih berada dalam rentang usia anak usia dini, belum spenuhnya sadar akan bahaya. Ketika melakukan aktivitas, sudah barang tentu mereka tidak akan bisa mematuhi protocol Kesehatan covid-19. Jangankan patuh, mengerti pun mereka belum sampai ke sana.

 

So, setelah ini, semoga tidak ada lagi yang berkeluh kesah berlebihan, "kenapa sekolah masih tutup?"

 

Semoga bermanfaat.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




    Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

    Nama :

    E-mail :

    Komentar :

              

    Kode :


     

    Komentar :

    Pengirim : Guru Honorer -  [noer.aripin@yahoo.com]  Tanggal : 06/10/2020
    Saya setuju dengan statement ini bahwa apabila dibuka bisa jadi klaster baru yang membahayakan masa depan bangsa.

    Tapi kita tidak bisa menutup mata, apakah yakin bila jalan2 ke mall ortunya tidak bawa anak2?

    Apakah orang tua akan bilang "Nak dirumah saja ya, bapak ibu mau jalan2 dulu ke mall".

    Ataupun tempat wisata lainnya yang dibuka, apakah liburan tidak dibawa sang anak?

    Faktanya anak2 dirumah belajar sangat minim, bahkan tidak sama sekali.

    Saya setuju dengan sekolah tetap di tutup demi pencegahan penyebaran, tapi harus diiringi dengan pembatasan lainnya juga.

    Saat ini faktanya yang lain dibuka penyebaran tetap meningkat, sekolah ditutup, anak masih bebas bermain dengan teman2nya diluar (bukankah sama saja berkumpul itu anak2 untuk penyebaran?)

    Menurut saya penutupan sekolah tidaklah efektif bila tidak diiringi keseriusan pemerintah untuk membatasi tempat lain juga yang sudah jelas jadi klaster penyebaran.

    Jangan sampai ketika sudah kondisi begini rakyat lagi yang disalahkan karena tidak taat protokol.

    Mall dan tempat wisata dibuka, siapa yang tidak tergiur ketika kondisi stress begini?2


       Kembali ke Atas